Species Baru

Sabtu, 30 April 2011

Immunoassay

RIA

RIA (Radioimmunoassay) adalah salah satu teknik immunoassay yang lebih baik dan lebih sensitif. Pada dasarnya, semua prinsip-prinsip desain assay EIA didasarkan pada kesimpulan yang diambil dari penggunaan RIA. Meskipun RIA masih merupakan teknik yang layak, namun sebagian besar telah digantikan oleh CL dan EIA di sebagian besar laboratorium klinis. Berbagai radioisotop dimanfaatkan dalam pemeriksaan RIA, I125, H3, C14. Baik CL dan EIA memiliki keunggulan pada reagen yang lebih stabil dan dapat memiliki batas deteksi yang lebih sensitif, serta tidak ada masalah dengan pembuangan limbah berbahaya.

FIA

FIA menggunakan fluoresens sebagai pendeteksi. Metode ini dapat digunakan baik dalam pemeriksaan homogen maupun heterogen. Fluoresens sendiri merupakan pancaran foton cahaya yang berwujud electron yang bergerak dari daerah pemicu loncata electron ke daerah netral. Sistem ini membutuhkan sumber cahaya pemicu loncatan electron, penyaring pancaran cahaya, dan sistem deteksi menggunakan tabung cahaya yang memiliki pengait. Lampu merkuri lebih sering dipergunakan sebagai sumber cahaya, meskipun xenon, halogen, dan laser dapat dipergunakan.

Fluoresens isothiosianat dan rhodamin merupakan fluoresens yang popular. FIA memiliki banyak unsur penyusun yang memiliki fungsi khusus sehingga FIA menjadi pemeriksaan khusus.

Ada sejumlah pemeriksaan homogen yang dilakukan dalam fase cair dan tidak membutuhkan pemisahan pengikat dengan komponen bebas. Salah satu teknik homogeny yang popular adalah Fluoresence Polarization Immunoassay. Teknik ini memberikan angka perbandingan antara pengikat dengan komponen bebas yang terlibat dalam reaksi tanpa membutuhkan tahapan pemisahan antara pengikat dan komponen bebas.

Polarisasi cahaya diukur dengan cara menyinari sampel menggunakan dua polarizer pada bidang yang sama dengan bidang cahaya masuk dan kemudian pada bidang yang telah diatur dalam posisi 90° antar bidang dengan sampel. Pengujian ini didasarkan pada peningkatan polarisasi cahaya yang terjadi ketika antigen fluoresen tag mengikat antibodi dan membentuk komplek imun. Antigen yang diberi label berukuran kecil sehingga dapat berputar cepat. Putaran cepat inilah yang menyebabkan depolarisasi cahaya. Ketika komplek antibodi antigen terbentuk, kenaikan berat molekul menyebabkan rotasi lebih lambat dan peningkatan emisi cahaya yang terpolarisasi. Teknik ini terutama biasanya digunakan untuk pengukuran obat dan beberapa hormon, bagaimanapun, ia memiliki utilitas untuk mendeteksi penyakit menular. Penggunaannya telah dijelaskan untuk mendeteksi antibodi berbagai organisme seperti bakteri gram negative (Brucella sp dan Salmonella sp) dan virus yang menyebabkan anemia pada kuda. Ada beberapa varian tes homogen dan heterogen. FIA memiliki sejumlah keunggulan termasuk kepekaan dan kecepatan tinggi dan sensitif seperti RIA. Selain itu, reagen stabil dan penggunaanya mudah dilakukan. Fluorecens polarization immunoassay memiliki keterbatasan berupa antigen yang harus kecil (tidak lebih dari 2000 MW) untuk memungkinkan perbedaan yang signifikan dalam polarisasi ketika membentuk komplek imun. Kekurangan lain yang juga penting digarisbawahi dalam penggunaan assay fluoresensi adalah masalah senyawa autufluorescent yang digunakan baik dalam sampel pasien maupun dalam campuran reaksi. Ini bisa menjadi masalah yang bermakna dalam uji homogen di mana tidak ada tahapan pencucian dan komponen sampel yang ada dalam tes. Untuk menghindari masalah ini, sampel dapat ditambah dengan enzim proteolitik, agen oxida, atau reagen denaturasi yang akan membatasi jumlah autofluorescence. Dalam uji fase padat, sebagian besar zat yang terlibat akan terhapus dari reaksi.

CL IMMUNOASSAY

CL immunoassay adalah teknik yang sangat populer yang secara luas digunakan dalam berabagai bentuk tes yang berbeda. CL adalah emisi cahaya yang terjadi ketika substrat mengalami peluruhan dari keadaan tereksitasi ke keadaan dasar. Berbeda dengan reaksi FIA yang menggunakan radiasi yang terjadi sebagai sumber energi, energy CL berasal dari reaksi kimia yang terjadi, yang paling sering adalah reaksi oksidasi. Pemeriksaan ini merupakan salah satu pemeriksaan yang paling sensitif dari semua immunoassay dengan batas deteksi sampai tingkatan attomole (1018 ) atau tingkat zeptomole (1021 ). Substrat CL digunakan sebagai titik akhir baik pada uji homogen maupun pada uji heterogen, di samping penggunaannya dalam imunoblotting dan deteksi multianalis. CL digunakan sebagai label langsung terhadap antigen atau antibodi dalam suatu reaksi yang dikatalisis dengan menambahkan substrat untuk enzim berlabel immunoreactant. Ester acridinium merupakan label yang paling sering digunakan, adalah turunan dari isoluminol dan ester acridinium. Yang terakhir adalah label yang popular, yang paling sensitif dan banyak digunakan. Hal ini dapat terkonjugasi pada antigen dan antibodi dengan menggunakan teknik standar. Deteksi relatif sederhana dengan penambahan natrium hidroksida dan hidrogen peroksida. Hasil reaksi yang berwujud kilatan cahaya, dibaca dengan menggunakan sebuah luminometer. Selain itu, sinyal cahaya dapat direkam pada film fotografi.

WESTERN BLOT DAN IMMUNOBLOT

Western Blot dan imunoblot adalah dua tahap uji padat yang menggabungkan pemisahan protein dengan menggunakan pemisahan dengan denaturasi gel elektroforesis yang diikuti dengan transfer ke filter dan penentuan reaktivitas dari serum pasien dengan protein individual yang terpisah, menggunakan ELISA sandwich. Imunobloting menggunakan filter membran padat yang mengandung antigen diidentifikasi oleh reaksi spesifik dengan antibodi. Umumnya teknik ini digunakan untuk mengidentifikasi pola spesifik antibodi ke berbagai agen penyakit menular. Salah satu aplikasi yang umum digunakan adalah konfirmasi terhadap antibodi terhadap HIV. Pola imunobloting dapat dibaca secara visual menggunakan isotop radiolabel atau menggunakan substrat CL yang kemudian dikembangkan pada sinar X, film fotografi atau kamera yang digabungkan

IPCR

IPCR adalah teknik baru yang menggabungkan ELISA tradisional dengan PCR. Menggunakan antibodi berlabel langsung dengan asam nukleat. IPCR adalah teknik ultrasensitif yang telah digunakan untuk mendeteksi berbagai virus. Ia memiliki keuntungan karena mampu mendeteksi protein prion di mana tidak ditemukan asam nukleat. Selain itu tehnik ini dapat mendeteksi protein virus tanpa mendeteksi asam nukleat. Tehnik ini tercatat sebagai tehnik deteksi ultrasensitive yang memiliki kemampuan mendeteksi berbagai agen infeksi seperti Streptococcus, HIV, Rotavirus dan sebagainya. Pada kasus Rotavirus dilaporkan bahwa IPCR dapat mendeteksi paling tidak 100 partikel virus/ml, hal ini dibandingkan deteksi oleh ELISA sebesar 100.000 partikel/ml. untuk mendeteksi antigen p24 HIV, IPCR sangat sensitif. Meskipun sangat sensitif namun ada persoalan di IPCR, terutama saat mengkombinasi asam nukleat ke protein da nada persoalan dengan dasar tes yang tinggi. Pendekatan alternative menggunakan DNA untai ganda yang secara tidak langsung untuk alkali fosfat. Selain itu juga dikemukakan bahwa metode ini dapat dipergunakan di masa depan dengan tingkat penggunaan yang tinggi.

Rapid Immunoassay

Pembuatan berbagai immunoassay yang cepat telah merubah tes diagnosa terutama pada berbagai laboratorium dan dapat digunakan tidak kurang dari 30 menit untuk mendapatkan hasil. Ada berbagai macam tes yang dapat mendeteksi antigen dan antibody debgan cara amplifikasi asam nukleat. Salah satu dari jenis tes ini yang cukup terkenal adalah lateral fluoro immunoassay atau immunochromatography. Tes ini memiliki keunggulan sebagai tes yang bekerja satu langkah. Di dalam alat ini terdapat kromatografi yang terbagi atas tiga zona, yaitu zona aplikasi sampel, zona konjugasi, dan zona penangkap.

Area konjugasi menggunakan berbagai macam konjugat seperti koloid emas, bahan celup ataupun butiran latex, untuk menghasilkan sinyal. Sampel diletakkan pada ruang sampel p\ dan mengalir menyamping akibat aksi kapiler. Ketika mencapai daerah konjugasi yang disusul adanya analyt, akan berikatan dengan dengan konjugat, membentuk kompleks imun. Kompleks ini akan meneruskan aliran ke lateral sepanjang blok dengan tetap dipengaruhi oleh aksi kapiler dan akhirnya akan ditangkap oleh antibody ke-2 atau antigen yang mengimpregnasi dalam area penangkapan. Jika ditemukan garis berwarna maka tes tersebut bereaksi positif. Terdapat pula kontrol positif untuk memastikan bahwa alat berfungsi baik. Ada beberapa variasi pada tes yang tidak membutuhkan venipungtur yang terpisah, penggabungan antara pengumpul sampel dengan pengetes dalam satu tes. Selain itu ada rapid tes bernama dot blot immunoassay. Tes dot blot ini sangat bermanfaat untuk tes HIV di negara tertinggal.

Secara keseluruhan immunoassay sangat mudah dan sederhana sehingga dapat dipergunakan di lapangan kerja serta dapat dioperasikan oleh tenaga medis dengan keterampilan minimal. Persoalan yang muncul dengan rapid test mencakup fakta bahwa alat ini tidak dapat otomatis, interpretasinya subjektif, dan hasil tes salah karena tenaga operator bukan tenaga ahli yang dididik tentang laboratorium secara formal. Akan tetapi mengingat seluruh keuntungan dan harga yang lebih murah, penggunaan alat ini akan berlanjut.

Teknologi Otomatis

Dengan tersedianya EIA, daftar alat-alat analisa otomatis meningkat jumlahnya. Saat ini tercatat 36 immunoassay yang dapat digunakan dengan spectrum luas untuk mendeteksi penyakit infeksi telah tersedia. Mesin-mesin ini digunakan pada seluruh tes serologi (baik determinasi antigen maupun antibodi) penyakit infeksi seperti HIV, hepatitis (A, B, dan C), Toxoplasma gondii, infeksi cytomegalovirus, rubella, dan infeksi Chlamydia trachomatis. Banyak sistem pada mesin ini membutuhkan teknologi yang terbatas. Kadang pula menggunakan sistem robotic yang lebih efektif terutama untuk laboratorium rumah sakit kelas menengah.

Banyak alat laboratorium yang mempergunakan kombinasi teknologi dan secara cepat serta simultan mendeteksi sampel tunggal. Berbagai alat tersebut termasuk CL, FIA, flow cytometry dan diagnostic molekuler (PCR dan penggunaan oligonukleotida serta nanopartikel). Teknologi ini hanya membutuhkan sampel dalam jumlah yang sedikit, secara luas diaplikasikan pada studi epidemic dan percobaan vaksin. Tes ini juga berguna untuk menilai agen biologis dari berbagai sampel.

Dengan hadirnya tes yang mudah dikerjakan menggunakan sistem otomatis, maka potensi adanya prosedur tes yang tidak tepat ataupun interpretasi serta hasil yang salah akan meningkat. Hasil tersebut akan memebrikan tekanan pada pekerja laboratorium dan spesialis infeksi untuk memnyediakan informasi baik pada kolega ataupun pasien tentang hasil yang sebenarnya, dan interpretasi yang tepat dalam rangka menegakkan diagnose penyakit infeksi.

Generasi pertama PPDS Mikrobiologi Klinik FK UNDIP Semarang

Selasa, 28 Desember 2010

BIO FILM

BIO FILM

Film Star In Antibiotic Resistance

Bagian 1

dr. Ridha Wahyutomo

Mahasiswa PPDS-Mikrobiologi Klinik FK UNDIP

26/12/2010 07:50 WIB

PENDAHULUAN

Bakteri terdiri atas dua bentuk kehidupan, planktonic (mengapung dan bergerak) dan sessile (keadaan diam). Planktonic penting untuk proliferasi cepat dan penyebaran ke lingkungan yang baru. Sessile, faktor pertumbuhan lambat untuk konsistensi. Penelitian mengungkapkan bahwa bakteri yang melekat pada media atau jaringan, dapat tumbuh dalam sebuah struktur yang disebut biofilms, yang dapat ditemui di hampir seluruh ekosistem, baik netral ataupun patogenik. Biofilm didefinisikan sebagai struktur mikroba untuk menempel antar mikroba atau ke permukaan jaringan. Penempelan ini melibatkan senyawa matriks biopolymer atau matriks polimer ekstraseluler yang diproduksi oleh mikroba. Matrik ini berupa struktur benang-benang bersilang satu sama lain yang dapat berupa perekat bagi biofilm.

KOMPOSISI BIOFILM

Komposisi Biofilm merupakan struktur yang dinamik dan kompleks. Permukaan jaringan umumnya dalam keadaan normal mengandung air, lipid, albumin, matriks polimer ekstraseluler atau mutrisi dari lingkungan sekitar. Bakteri menempel pada permukaan, pada awalnya dalam ikatan reversible dan kemudian perlekatan irreversible yang dengan cepat membentuk perlekatan biofilm berstruktur kokoh. Biofilm yang sudah masak memberi gambaran perkembangan yang cepat dan terdiri dari struktur berbentuk pilar yang menempel dalam extracellular polymer matrix atau glycocalyx dengan jumlah banyak, disekat oleh saluran berisi air dan mengalir yang menjadi transport nutrisi dan oksigen ke bagian dalam biofilm dan membuang sampah metabolik.

Proses perlekatan mikroba dipengaruhi beberapa hal termasuk spesies bakteri, komposisi permukaan sel, kondisi alami permukaan jaringan, ketersediaan nutrisi, hidrodinamik, komunikasi antar sel, dan regulasi global dalam jaringan. Ada 3 fase dalam pembentukan biofilm. Pertama ditandai distribusi sel yang ditempel oleh motilitas permukaan. Kedua, terjadi pembelahan dari sel yang dilekati. Ketiga, agregasi sel atau kelompok sel dari sebagian cairan membentuk biofilm.



BIO FILM MIKROSKOP ELEKTRON
BIOFILM Staphylococcus

Minggu, 26 Desember 2010

SPECIMEN GASTROINTESTINAL

SPECIMEN GASTROINTESTINAL

Swab Rectal dan Anal

dr. Ridha Wahyutomo

Mahasiswa PPDS Mikrobiologi Klinik FK UNDIP

24 Desember 2010 jam 03.00 WIB

Pemilihan Spesimen

* Rectal swab hanya dapat dilakukan bila diare diambil dari bayi atau orang dewasa dengan diare akut. Tidak pula untuk deteksi toxin Clostridium difficile.

* Swab untuk kultur pathogen enteric harus mendapatkan feces juga. Karena anal swab saja tidak akan mendapatkan bakteri penyebab diare yang sebenarnya.

* Kultur rutin diindikasikan jika mencari Salmonella, Shigella dan campylobacter. Jika curiga keterlibatan kuman-kuman tersebut maka harus disampaikan pada laboratorium mikrobiologi klinik. Begitu piula untuk E.coli O157:H7, Yersinia, Vibrio, Aeromonas, Pleisomonas.

Pengambilan Spesimen

1. Material

© Swab

© Medium transport (jika perlu)

2. Metode

* Dengan hati-hati masukkan swab ke dalam spinchter anal.

* Putar swab.

* Tarik swab. harus ada feces yang terambil.

* Letakkan dalam medium transport.

* Khusus kecurigaan adanya GO, swab bagian kripte anal di dalam anal ring. Jaga agar tidak ada kontaminasi feces.

* Segera tanam GO pada medium Thayer martin di samping tempat tidur pasien (ada baiknya dilakukan oleh staf mikrobiologi klinik).

Labelling

* Beri label sesuai identitas pasien.

* Tandai kuman pathogen yang dicari terutama GO

* Tandai waktu pengambilan pada orm permintaan.

Transport

* Khusus GO segera bawa ke laboratorium dalam waktu 30 menit. Karena kuman GO akan mati dalam lemari es tanpa CO2.

* Untuk kultur rutin ditanam dalam medium transport dan dimasukkan lemari es.

Jumat, 24 Desember 2010

HANDLING SPECIMEN

HANDLING SPECIMEN
Good Job You Can Trust

dr. Ridha Wahyutomo
Mahasiswa PPDS Mikrobiologi Klinik FK UNDIP
24 Desember 2010 jam 02.00 WIB


Pengertian
Handling specimen merupaka serangkaian kegiatan meliputi pemilihan, pengambilan, dan transportasi specimen atau materi tubuh yang akan diperiksa di laboratorium dalam rangka penegakkan diagnose. Hal ini dapat dilakukan karena dalam pemeriksaan penunjang akan didapatkan etiologi dan gambaran proses penyakit.

Panduan Awal
Ada tahapan-tahapan yang harus ditempuh untuk handling specimen.
1. Tahap persiapan
Perlakukan semua specimen sebagai limbah berbahaya.
Jika memungkinkan, kumpulkan specimen sebelum pemberian antibiotika

2. Tahap pelaksanaan
Diambil dari tempat terjadinya infeksi yang sebenarnya.
Jaga specimen dari kontaminasi flora normal
Jumlah specimen harus adekuat

3. Tahap transportasi
Pergunakan alat pengambil specimen yang tepat, kokoh, steril, dan tehnik aseptic untuk menampung
Bila menggunakan swab maka dijaga kelembabanya dalam media transport.
Beri label tempat penampung specimen dengan:
nama lengkap pasien
usia
jenis kelamin
asal spesimen
Identifikasi asal spesimen
Kirim specimen segera ke laboratorium.

Kaidah Waktu Pengambilan Specimen
Tergantung dari proses penyakit dan kemampuan memproses specimen
Specimen yang lebih dari 24 jam harus sebaiknya tidak dipakai.
Beberapa specimen diambil pada waktu tertentu seperti sputum pagi sewaktu.
Khusus kultur darah kadang penting melihat kondisi klinis pasien. Kultur 3 kali dalam 24 jam sangat berguna dalam mendiagnosa septicemia
Selain proses laboratorium rutin, maka pengambilan specimen untuk beberapa pemeriksaan harus dilakukan dengan terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter spesialis mikrobiologi klinik.

Prosedur Transport Spesimen
Untuk kultur, segera kirim specimen dalam waktu 1 sampai 2 jam. Khusus urin jika akan ditunda harus dimasukkan lemari es, namun kurang baik menurut beberapa dokter spesialis mikrobiologi klinik karena bakteri dapat berkembang biak dalam 20-30 menit. Sehingga hasil palsu dapat muncul
Jika ditunda, maka pergunakan medium transport seperti Amies, Stuart, Cary-Blair.
Jangan menerima swab yang sudah kering atau tanpa medium dan normal saline.

Pemrosesan Spesimen Umum
Specimen diproses setelah ada permintaan dan labeling sudah lengkap.
Specimen tidak boleh diproses jika tempat specimen tidak tepat, tidak tepat mediumnya, dan penundaan pengiriman terlalu lama.
Specimen yang diambil dari tempat yang sama dalam 24 jam tidak boleh diproses kecuali ada indikasi yang telah disepakati antara dokter spesialis di bangsal dan dokter spesialis mikrobiologi klinik.

Dengan berjalannya kaidah handling specimen yang baik, maka diagnose dapat dipercaya dan penatalaksanaan terutama antibiotika tidak asal tembak tanpa tahu cara kerja, sasaranya, dan dosisnya. So, as a clinical microbiologist, we do a good job you can trust, INSYA ALLOH.

Rabu, 22 Desember 2010

Non Motil But In Motion

ACINETOBACTER

Non Motil But In Motion

dr. Ridha Wahyutomo

Mahasiswa PPDS-Mikrobiologi Klinik FK UNDIP

22/12/2010 03:00 WIB

Pendahuluan

Acinetobacter pertama kali diidentifikasi oleh Brisou dan Prevot pada tahun 1954. Kemudian oleh Beijerinck dari Delft Belanda, diisolasi dari tanah dan disebut sebagai micrococcus calco aceticus. Sebelum tahun 1986, pembagian species Acinetobacter dikelompokkan dalam berbagai kriteria. Namun standar identifikasi akhirnya mengacu kepada DNA-DNA hybridization yang dilakukan oleh Rossau pada tahun 1991. Dari hasil standarisasi tersebut didapatkan 19 genom spesies. Acinetobacter baumannii biasa ditemukan di lingkungan klinik, Acinetobacter johnsonii dan Acinetobacter lwoffii merupakan flora normal pada kulit manusia, ditemukan pula pada tanah dan lumpur.

Morfologi dan Biokimia

Secara morfologi, Acinetobacter merupakan kuman cocobacil yang kadang menyerupai Neisseria karena bentuk diplococcus, non motil, gram negative, tidak membentuk spora. Merupakan kuman aerob yang tidak menghasilkan warna ungu dalam reaksi dengan 1% tetramethyl p-phenylenediamine (tes oxidase negative) dan hal inilah yang membedakan Acinetobacter dengan Neisseria. Namun menghasilkan gelembung oksigen saat bereaksi dengan H2O2 (tes katalase positif). Selain itu juga mereduksi nitrat.

Epidemiologi

Acinetobacter dapat ditemukan secara bebas di tanah dan air. Kuman ini dapat diisolasi dari makanan terutama hasil olahan binatang dan dari kulit manusia normal. Dapat pula didapatkan dari membrane mukosa, sekresi vagina, sputum, urin, feces ataupun dari lingkungan rumah sakit. Dari lingkungan rumah sakit dapat diisolasi dari bak dialisa peritoneal, bed urinal, lap, kateter angiografi, hanscoen, bantal pasien, dan sebagainya.

Dalam dua decade ini Acinetobacter menjadi perhatian dan dianggap sebagai sumber infeksi oportunistik yang diwaspadai di rumah sakit. Selain itu Acinetobacter juga menunjukkan pola resistensi terhadap antibiotika, yang menyebar dengan cepat sebagai infeksi nosokomial. Di ruang ICU sering diapatkan pada tractus respiratorius. Pada bangsal umum isolate didapatkan dari luka, tractus urinarius.

Acinetobacter memicu outbreak nosokomial yang mengacu paa klasifikasi epidemic di rumah sakit menurut Hansen. Criteria Hansen tersebut yaitu,

1. Epidemic rumah sakit dipicu oleh satu tipe spesies

2. Epidemic rumah sakit dipicu oleh tipe yang berbeda dari setiap spesies atau spesies berbeda.

3. Epidemic rumah sakit dipicu oleh spesies berbeda dengan pola resistensi antibiotika sama

Penyebaran tersebut tampaknya berasal dari tangan staf kesehatan yang kontak dengan pasien yang terdapat kolonisasi Acinetobacter.

Berdasarkan data dari National Nosocomial Infections Surveillance (NNIS) tahun 1990 sampai 1992 dan dipimpin oleh CDC, menemukan Acinetobacter 4% menjadi penyebab nosokomial infeksi pneumonia. Sering ditemukan dalam bentuk VAP (Ventilator Acquired Pneumonia. Infeksi lain oleh karena Acinetobacter termasuk bakterimia, ISK, meningitis, endocarditis, infeksi okuler, osteomyelitis, dan peritonitis. Secara umum, infeksi Acinetobacter berhubungan dengan peralatan medis yang lau terjadi pada saat system pertahanan tubuh gagal sebagai kelanjutan adanya luka atau pembedahan. Neonates sangat rentan terhadap infeksi Acinetobacter.

Acinetobacter lwoffii diketahui juga berperan dalam bakteremia dengan tanda-tanda sepsis yang berat. Pada usia lanjut, bakteremia terjadi pada kondisi penyakit berat seperti malignansi, luka bakar, trauma, kolonisasi pada tractus respiratorius pasien luka bakar dengan intubasi. Pada pasien kateterisasi bakteremia terjadi meskipun tanpa melibatkan penyakit yang mendasari.

Meningitis oleh karena Acinetobacter tanpa kecuali, juga menjadi efek oleh karena intervensi neurosurgical.

CAP oleh karena Acinetobacter jarang terjadi namun merupakan penyakit berat. Alkoholisme, merokok, COAD dan DM merupakan faktor predisposisi. Pasien biasanya mengalami sakit akut dengan gejala dyspnoea, demam, batuk produktif, dan nyeri dada oleh karena pleuritis. Perjalanan klinis dapat memburuk dengan adanya syok, hypoxemia berat, granulocytopenia dan kultur darah positif.

Pathogenesis

Acinetobacter merupakan kuman oportunis. Meskipun hidup pada pH asam dan di suhu rendah, namun dapat menyerang jaringan vital.

Acinetobacter memiliki daya toksik/virulensi yang setara dengan Escherichia, Serratia marcescens, and Pseudmonas aeruginosa. Kapsul tidak berhubungan dengan virulensi. Tetapi kapsul meningkatkan aktifitas bunuh E.coli, S. marcescens dan P. aeruginosa. Pada isolate klinik didapatkan kerusakan jarinagn lemak oleh karena enzim yang menghidrolisis asam lemak rantai pendek. Endotoxin Acinetobacter menunjukkan aktifitas toksik yang sama dengan Enterobacteriaceae. Walaupun terdapat endotoxin yang merupakan senyawa lipopolisakarida, namun belum diketahui potensi endotoksik pada manusia.

Kuman ini juga mampu memproduksi bakteriocin dan bertahan hidup dalam kondisi kering.

Manifestasi Klinik

· Tractus Respiratorius

Merupakan tempat paling sering didapatkan Acinetobacter karena kolonisasi di faring di orang sehat dan pada tracheostomy. Pada anak sehat dapat menyebabkan community acquired bronchiolitis dan tracheobronchitis. Dapat pula terjadi tracheobronchitis pada dewasa. CAP oleh karena Acinetobacter pada dewasa dapat didasari alkoholisme, merokok, COAD dan DM. Pasien biasanya mengalami sakit akut dengan gejala dyspnoea, demam, batuk produktif, dan nyeri dada oleh karena pleuritis. Perjalanan klinis dapat memburuk dengan adanya syok, hypoxemia berat, granulocytopenia dan kultur darah positif.

CAP oleh karena Acinetobacter lebih sering terjadi pada daerah tropis, daerah dengan tingkat kesehatan rendah, penggunaan penicillin sering.

Akibat terbesar yang ditimbulkan oleh infeksi Acinetobacter adalah nosokomial pneumonia, yang lebih banyak oleh karena pemakaian ventrikulator, VAP. Infeksi pneumonia nosokomial ini dapat dipicu oleh intubasi ET, tracheostomy, terapi antibiotic sebelumnya, didapatkan dari ICU, tindakan bedah yang baru saja, penyakit paru yang mendasari.

ICU yang seharusnya steril dapat memberikan kontribusi penularan Acinetobacter dari alat ventrilator, hanscoen, perawat dengan kolonisasi Acinetobacter, cairan nutrisi parenteral yang terkontaminasi.

· Bacteremia

Nosokomial bakteremia oleh karena Acinetobacter biasanya berhubungan dengan adanya penyakit pada tractus respirasi, i.v. cath, tractus urinarius, luka, kulit, dan infeksi abdomen. Kadang disertai pula dengan syok septic dan dapat terjadi kematian pada Acinetobacter bakteremia.

· Genitourinary

Pada pasien dengan urethritis “menyerupai gonorrhea” yang resistensi penicillin kadang disalahartikan sebagai akibat infeksi Acinetobacter. Meskipun tractus urinarius bagian bawah terdapat kolonisasi Acinetobacter, namun jarang invasif. Walaupun begitu ada data yang menunjukkan terjadinya cystitis dan pyelonephritis pada pasien dengan kateter menetap.

· Meningitis

Meningitis oleh karena Acinetobacter jarang terjadi. Meskipun jika ditemukan berasal dari prosedur bedah saraf. Meningitis bermanifestasi kasar. Gambaran rash petechie tampak pada Acinetobacter meningitis.

· Jaringan lunak

Acinetobacter dapat menimbulkan cellulitis yang dihubungkan dengan i.v cath. Pada luka, trauma, luka bakar, dan insisi post operasi. Hal ini karena Acinetobacter dapat tubuh subur pada jaringan dan benda asing.

· Jaringan lain

Acinetobacter dapat menimbulkan infeksi di seluruh jaringan tubuh. Pada mata dapat menyebabkan conjungtivitis, endopthalmitis, perforasi kornea oleh karena kontaminasi contact lens. Endocarditis oleh karena katup buatan, osteomyelitis, septic arthritis, abses liver dan pancreas, juga pernah dilaporkan oleh karena Acinetobacter.

Terapi

Sangat sedikit dari antibiotik yang digunakan secara efektif untuk menangani infeksi nosokomial oleh karena Acinetobacte, terutama pada pasien di ICU. Antibiotika β Lactam hanya dapat dipakai setelah ada tes sensitivitas. Ticarcillin, sering dikombinasikan dengan sulbactam, ceftazidime, atau imipenem, dapat dipakai. Aminoglycosida kadang efektif bila dikombinasi dengan β Lactam, dan kombinasi lain dari β Lactam dengan satu fluoroquinolone atau rifampin juga pernah dikemukakan. Pada sebuah survei retrospektif di Perancis dari kebiasaan penulisan resep pada ICU, yang pertama diberikan untuk infeksi Acinetobacter meliputi amikacin, imipenem, ceftazidime, atau salah satu quinolone (pefloxacin atau ciprofloxacin). Pada 56% kasus, imipenem dianggap baik sebagai agen tunggal atau dikombinasi dengan amikacin (18%), sementara ceftazidime ditambah amikacin ditemukan pada 17% kasus dan amikacin dipergunakan seperti agen tunggal pada 26% kasus. Pada penelitian penggunaan antibiotika setelah tes kepekaan secara in vitro, kombinasi dari imipenem dengan aminoglycoside dipergunakan pada 59% kasus, ceftazidime dengan aminoglycoside dipergunakan pada 30% kasus, dan ceftazidime dikombinasi dengan quinolone dipergunakan pada 11% kasus. Pada penelitian sebelumnya didapatkan bahwa imipenem dipergunakan sebagai monotherapy pada 20% dari 33 kasus infeksi nosokomial, imipenem di kombinasi dengan amikacin dipergunakan pada 40% kasus, dan pefloxacin ditambah amikacin atau tobramycin (bergantung kepada antibiogram) dipergunakan pada 20% kasus. Kegagalan tata laksana dan kematian (disebabkan oleh infeksi Acinetobacter atau penyakit yang mendasari) terjadi pada 17% pasien yang mendapat antibiotika. Umumnya, antibiotika terbaru yang disrankan sebagai pilihan terapi infeksi Acinetobacter adalah penisilin spektrum luas, cephalosporins spectrum luas, atau imipenem, dikombinasikan dengan satu aminoglycoside.

Selasa, 11 Agustus 2009

Resistensi antibiotika

TES SENSITIFITAS UNTUK MENENTUKAN
RESISTENSI ANTIBIOTIKA
dr. Ridha Wahyutomo
Bagian Mikrobiologi Klinik Fakultas Kedokteran UNISSULA

Abstract
Antimicrobial drugs or antibiotics are among the most commonly prescribed drugs in medical practice. This is because of Infectious diseases are one of the leading causes of death worldwide. But more extensive use of antibiotics leads to problems. Inappropriate prescribing, dose, indication, etc, create new bacteria strain increasingly resistant to a wide variety of antimicrobial agents. Although new antibiotics continue to be developed by pharmaceutical manufacturers, the microbes seem to quickly find ways to avoid their effects.
So, there is a need for the use of method to detect this resistance so that special precautions are quickly instituted to prevent transfer of the resistant bacteria among patients. There are many methods to detect this resistance so called sensitivity test.
Key words: Antibiotics, resistant, sensitivity test

I. PENDAHULUAN
Suatu bahan atau senyawa kimia yang digunakan untuk menangani suatu penyakit dinamakan kemoterapi. Agen kemoterapi yang dihasilkan dari hasil metabolisme bakteria atau jamur disebut antibiotika (Leong, 1999). Namun ada pula antibiotika yang dibuat dari bahan kimia atau campuran antara bahan kimia dan alami yang senyawanya memiliki efek sama dengan antibiotika alami, antibiotika ini disebut antibiotika semisintetis ataupun sintetis (Bauman, 2007).
Semenjak ditemukannya antibiotika pertama yaitu penemuan sulfonamide pada tahun 1935 (Jawetz, 2007), pemakaian antibiotika dalam klinik meningkat. Penemuan suatu antibiotika, harus memenuhi kaidah-kaidah farmasi, termasuk di dalamnya syarat karakter yang harus dimiliki oleh suatu antibiotika
Secara umum sebaiknya obat antibiotika mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :
· Menghambat atau membunuh patogen tanpa merusak hospes
· Bersifat bakterisidal dan bukan bakteriostatik
· Tidak menyebabkan resistensi pada bakteri
· Berspektrum luas
· Tidak bersifat alergenik atau menimbulkan efek samping bila dipergunakan dalam jangka waktu yang lama
· Tetap aktif dalam plasma, cairan tubuh atau eksudat
· Larut di dalam air dan stabil
· Kadar bakterisidal di dalam tubuh cepat tercapai dan bertahan dalam waktu lama.
(Unibraw, 2003)
Keberhasilan antibiotika dalam mengatasi infeksi bakteri, diikuti dengan resistensi bakteri pada antibiotika. Hal ini telah mengurangi efektifitas antibiotika dan memacu perusahaan farmasi untuk mendapatkan dan memproduksi antibiotika yang baru, lebih efektif, dan bahkan dengan dosis yang lebih kuat (Warsa, 1990). Secara ekonomis hal ini juga tidak menguntungkan, karena terjadi peningkatan biaya yang harus ditempuh untuk jenis antibiotika yang baru.
Antibiotika diberikan secara tepat sesuai diagnosa penyebab penyakit infeksinya. Untuk menentukan penyebab penyakitnya, maka secara ideal diperlukan diagnosa bakteriologik dan tes kepekaan bakteri terhadap antibiotika. Tes tersebut dalam laboratorium mikrobiologi disebut tes sensitifitas.

II. TINJAUAN PUSTAKA
A. EPIDEMIOLOGI
Pengamatan terhadap masalah resistensi antibiotika telah berlangsung semenjak tahun 1902 oleh dr. Paul Ehrlich dengan pengamatan pada tikus yang sudah diinfeksi dengan Trypanosoma dan diobati dengan zat warna azo, arsenil organik, dan trifenilmeton. Namun kemudian ditemukan kejadian dimana ada strain Trypanosoma menjadi resisten setelah kontak dengan obat-obat tersebut (Warsa, 1990).
Namun pengamatan yang mendalam diawali dari ditemukannya staphylococcus yang resisten terhadap penicillin pada awal 1940-an. Sejak itu resistensi tunggal maupun multiple (multidrug resistance) yang dimediasi oleh plasmid yang dapat dipindahkan dari satu ke lain mikroorganisme di traktus gastrointestinal juga dilaporkan sekitar tahun 1950-an (Dwiprahasto, 2005). Bakteri yang diamati dari gastrointestinal tersebut adalah Enterococcus, yaitu pada kejadian enterococcal endocarditis yang tidak mempan diterapi menggunakan penisilin seperti halnya streptococcal endocarditis. (Arias, 2008).
Beberapa antibiotik dibuat untuk mengatasi resistensi tersebut, sebagai contoh adalah vancomycin yang sangat efektif menangani infeksi Staphylococcus. Tetapi, pada tahun 1997, strain dari Staphylococcus aureus resisten terhadap Vancomycin dilaporkan di Jepang dan Amerika Serikat. Antara tahun 1993 sampai tahun 1997, frekuensi resistensi terhadap penisilin juga meningkat dari 14% menjadi 25%. (Cassell, 2001). Resistensi vancomycin pada Staphylococcus aureus ada juga yang disertai Resistensi multipel/Multiple-drug-resistant (Weigel, 2003).
Masalah resistensi juga pernah tercatat sebagai outbreak dengan munculnya kuman-kuman resisten MRSA (Methicillin Resistant Staphylococcus aureus), ESBL (Extended Spectrum Beta Lactamase), VRE (Vancomycin Resistant Enterococci) dan multiresisten Pseudomonas aeruginosa P12 yang timbul di ICU rumah sakit de Pau, Perancis, th 2000 (Diana, 2001)
Dari penelitian di Indonesia, di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung dan RSUP dr. Kariadi Semarang didapatkan pada 50 bahan pemeriksaan dari fasilitas di ruang perawatan intensif ditemukan 26 galur MRSA (52%), 30 pasien dengan bakteremia di ruang perawatan intensif ditemukan 17 galur MRSA (56,6%), serta pada 70 petugas ruang perawatan intensif ditemukan 61,4% atau 43 galur MRSA (Wahyono, 2005).

B. MEKANISME KERJA ANTIBIOTIKA
Klasifikasi antibiotika berdasarkan cara kerja antibiotika tersebut terhadap kuman, yakni antibiotika yang bersifat primer bakteriostatik dan antibiotika yang bersifat primer bakterisid.
Pembagian lain juga sering dikemukakan berdasarkan makanisme atau tempat kerja antibiotika tersebut pada kuman, yakni
1. Antibiotika yang menghambat sintesis dari dinding sel, termasuk dalam kelompok ini adalah kelas ß lactam seperti penicillin, cephalosporin, dan carbapenem. Juga antibiotika seperti cycloserine, vancomycin, dan bacitracin.
2. Antibiotika yang bekerja langsung bekerja pada membran sel bakteri, meningkatkan permeabilitas dan mendorong kebocoran susunan intrasel, contohnya polymyxin; polyene antifungal agents (nystatin dan amphotericin B).
3. Antibiotika yang mengganggu fungsi dari subunit ribosom 30S atau 50S yang akan menyebabkan penghambatan sintesis protein. Contohnya chloramphenicol, tetracyclines, erythromycin, clindamycin, streptogramins, dan linezolid
4. Antibiotika yang berikatan dengan subunit ribosom 30S dan merubah sintesis protein. Contohnya adalah aminoglikosida
5. Antibiotika yang mempengaruhi metabolisme asam nukleat, seperti rifampin dan rifabutin, yang menghambat RNA Polymerase dan quinolones, yang menghambat topoisomerase.
6. Antibiotika termasuk trimethoprim dan sulfonamide, yang menghalangi enzim esensial dari metabolisme folat. (Chambers, 2006)

C. RESISTENSI BAKTERI TERHADAP ANTIBIOTIKA
Resistensi bakteri memiliki beberapa pengertian, antara lain :
1. Inaktifasi obat
Ketidak efektifan obat dapat dihasilkan dari enzim spesifik seperti ß lactamase yang diproduksi oleh bakteri menyumbat sistem kerja antibiotika, misalnya antibiotika gagal melewati membrane sel.
2. Perubahan target obat
Bakteri dapat merubah protein pengikat penisilin (PBPs/Penicillin Binding Proteins) sebagai contoh MRSA yang terjadi perubahan PBPs sehingga ß lactam tidak dapat berikatan dengan komponen sel bakteri.
Hal serupa juga terjadi pada Vancomycin Resistant Enterococci dapat merubah ikatan area akhir D-ala D-ala menjadi D-ala L-lys. Ikatan ini dapat dikenali oleh enzim transpeptidase bakteri tetapi tidak dikenali oleh Vancomycin. Contoh lain adalah resistensi erythromycin melalui perubahan subunit ribosom 50s.
3. Berkurangnya keutamaan area target kerja antibiotik
Sebagai contoh, pada pengobatan abses tidak dapat diterapi dengan sufonamid karena tidak efektif menangani infeksi yang menyebar. Sulfonamid bekerja menghambat sintesis asam folat, sedangkan asam folat digunakan untuk sintesis nukleotida DNA. Pada abses ditemukan banyak sekali sel mati, termasuk di dalamnya DNA yang tersebar di abses tersebut sehingga seolah-olah bakteri berada dalam lautan nukleotida yang menjadi bahan baku sintesis DNA tersebut. Bakteri tidak membutuhkan asam folat dalam kondisi abses.
4. Produksi berlebih pada sel target
Sebagai contoh adalah trimethoprim, bakteri mampu memproduksi DHFR (Dihydrofolate Reductase) secara berlebihan untuk menghambat kerja trimethoprim
5. Berkurangnya jalur antibiotika menuju sel target
Bakteri dapat merubah membrane protein terluarnya, misalnya porin, yang digunakan antibiotika untuk masuk ke dalam sel bakteri. Sehingga jalan masuk tersebut ditutup, meskipun tidak menhalangi total karena antibiotika masih mampu masuk lewat jalur lain. Namun ini mengakibatkan timbulnya resistensi yang memicu peningkatan dosis antibiotika.
Sebagai contoh pada infeksi oleh gonococcus (Neisseria gonorrhoea), resistensi pada penisilin terjadi karena adanya perubahan permeabilitas penisilin. Hal ini yang menyebabkan dosis untuk menangani infeksi gonococcus selalu meningkat.
6. Kegagalan untuk mengaktifkan prodrug non aktif
Hilangnya gen yang mengatur enzim pengaktif prodrug. Sebagai contoh adalah izoniazid (Duy, 1997)

D. ASAL USUL RESISTENSI BAKTERI
1. Asal resistensi obat nongenetik
Hampir semua antibiotika bekerja dengan baik pada masa pembelahan sel bakteri, sehingga bakteri yang tidak aktif membelah pada umumnya resisten terhadap obat. Misalnya Mycobacterium tuberculosa yang berada di dalam jaringan tidak akan membelah.
Kemampuan bakteri menghilangkan struktur target dari antibiotika, contohnya adalah bakteri yang menghilangkan struktur dinding sel akan resisten terhadap antibiotika yang bekerja pada dinding sel.
Bakteri yang menginfeksi di bagian tubuh yang tidak dapat dicapai oleh antibiotika akan resisten terhadap antibiotika. Sebagai contoh adalah resistensi Salmonella typhi oleh karena bakteri berada intraseluler.
2. Resistensi genetik
a. Resistensi kromosomal
Resistensi kromosomal terjadi karena mutasi spontan akibat mekanisme seleksi terhadap supresi oleh obat. Misalnya hilangnya reseptor PBPs (Penicillin Binding Proteins) terhadap antibiotika ß lactam.
b. Resistensi ekstra kromosomal
Bakteri mengandung materi kinetik ekstra kromosomal yang disebut plasmid. Plasmid merupakan molekul DNA yang melingkar (sirkuler) dan mempunyai ciri-ciri :
· Mempunyai berat ± 1-3 % dari kromosom bakteri
· Berada bebas dalam sitoplasma bakteri
· Adakalanya dapat bersatu dengan kromosom bakteri
· Dapat melakukan replikasi sendiri secara otonom
· Dapat berpindah atau dipindahkan dari satu spesies ke spesies lain. Misalnya Di Antara E. coli dan V. cholerae
(UNBRAW, 2003)

E. DIAGNOSIS LABORATORIUM
Fungsi penting dari diagnosa laboratorium mikrobiologi untuk membantu dokter pada area klinik menentukan antibiotika yang efektif untuk pengobatan spesifik penyakit infeksi. Setiap pasien dengan infeksi, sebaiknya dilakukan tes sensitifitas in vitro, sehingga antibiotika yang tepat dapat ditentukan dan diberikan pada pasien. Tes sensitifitas juga menunjukkan bahwa bakteri menjadi semakin resisten terhadap berbagai sediaan antibiotika.
Ada beberapa cara tes sensitifitas, namun semua tes tersebut harus memenuhi kriteria:
o Menyediakan informasi yang akurat dan cepat
o Harga relatif terjangkau/murah
o Mudah untuk dilakukan
Tes sensitifitas dapat dilakukan dengan berbagai cara :
A. Dilusi cair atau dilusi padat
Pendekatan yang lebih kuantitatif untuk menguji sensitifitas bakteria terhadap suatu antibiotik atau mencari nilai Minimum Inhibitory Concentration: MIC (Leong, 1999). Pada dasarnya antibiotik diencerkan sampai didapatkan beberapa konsentrasi. Pada dilusi cair, masing-masing konsentrasi obat ditambah suspensi kuman dalam media cair, sedangkan pada dilusi padat tiap konsentrasi obat dicampur dengan media agar lalu ditanam kuman. Ada beberapa metode dilusi, yaitu: Broth macrodilution, Microdilution, dan Agar dilution tests
(Vyas, 2008)
B. Difusi
Memakai media Mueller Hinton agar. Ada beberapa cara :
1.Cara Kirby Bauer (diambil dari nama ahli mikrobiologi W. Kirby dan A. W. Bauer di tahun 1966). atau disebut filter paper disk agar diffusion method, juga dikenal sebagai NCCLS/National Committee for Clinical Laboratory Standards (Harley, 2002). Prosedurnya sebagai berikut:
a. Diambil beberapa koloni kuman lalu disuspensikan ke dalam 0,5 ml BHI (Brain Heart Infusion) cair, diinkubasikan 4 jam pada 37 C
b. Suspensi tsb ditambah dengan aquades steril hingga kekeruhan tertentu sesuai dengan standard konsentrasi kuman 108 CFU per ml (Colony Forming Unit)
c. Kapas lidi steril dicelupkan ke dalam suspensi kuman lalu ditekan-tekan pada dinding tabung hingga kapasnya tidak terlalu basah, lalu dioleskan pada permukaan media agar hingga rata
d. Lalu diletakkan kertas samir/disk yang mengandung antibiotik diatasnya, inkubasi dalam suhu 37 C selama 18-24 jam
Pembacaan hasil :
Jika tidak ada penghambatan, perkembangan meluas dari cakram pada semua sisi dan organisme dilaporkan resisten (R). Jika terdapat zona hambatan di sekitar disk, harus diukur diameter zona hambatnya kemudian dibandingkan dengan table standard an bila masih sensitive diberikan simbol Susceptible (S). Pada beberapa kasus tidak dapat diidentifikasikan apakah antibiotika tersebut sensitive atau resisten. Untuk kasus tersebut diberi simbol (I) atau Intermediate
Hasil tes Kirby-Bauer
Dalam gambar tampak hasil tes A sampai dengan E masih terdapat zona hambat di sekitar antibiotik disk, yang berarti kuman tersebut peka terhadap antiobiotik tersebut. Sedangkan F tidak terdapat zona hambat di sekitar antibiotik disk, yang berarti kuman tersebut resisten terhadap antibiotik tersebut.
(Morello, 2003)
2. Cara Joan-Stokes, yaitu dengan cara membandingkan radius zona hambatan yang terjadi antara bakteri control yang sudah diketahui kepekaannya terhadap obat tersebut dengan isolate bakteri yang diuji. Pada cara ini, prosedur tes sensitifitas untuk bakteri control dan bakteri uji dilakukan bersama-sama dalam satu piring agar.
C. Antimicrobial Gradient
Cara ini termasuk cara baru, dengan menggunakan satu jenis antibiotika dengan beberapa derajat konsentrasi yang diletakkan pada strip plastik, sering disebut E-test. Prinsipnya hampir serupa dengan cara Kirby Bauer, yaitu meletakkan strip pada agar Muller Hinton, kemudian dilakukan inkubasi 12 jam dan dilakukan pengamatan adanya zona hambat.
Zona hambat
E-test
D. Short-Incubation Automated Instrument Systems (SIAIS)
FDA (Food and Drugs Administration) memperkenalkan dua system untuk tes sensitifitas yang lebih cepat dan akurat, yaitu MicroScan walk away dan Vitek systems. Kedua system ini menggunakan tehnik yang sama both systems utilize similar techniques. Sebuah penampang microdilution diberi bakteri dengan jumlah yang telah diketahui sebelumnya. Kemudian beberapa antibiotika dapat diberikan pada penampang microdilution. Dalam 3 sampai 10 jam akan muncul pada software, informasi mengenai reaksi, identifikasi bakteri, dan pola resistensi antibiotika. Cara ini merupakan cara terbaru dan menggunakan tekhnologi tercepat.
(Vyas, 2008)
E. Deteksi Gen Penyandi Resistensi
Deteksi ini mencari gen berupa segmen DNA atau RNA. Ada beberapa metode yang dipakai, antara lain RRP (Reaksi Rantai Polimerase) dan RRP-LiPA (RRP- Line Probe Assay). Cara ini belum luas dipakai karena rumit dan mahal. Namun, cara ini lebih cepat karena tidak perlu melalui tahapan isolasi dan pembiakan bakteri (Sjahrurachman, 2000)

KESIMPULAN
Antibiotika merupakan obat yang paling banyak digunakan dalam klinik karena jumlah penyakit infeksi masih menduduki peringkat tertinggi. Selaras dengan pemakaianya timbul masalah resistensi dari bakteri terhadap berbagai jenis antibiotika sehingga menimbulkan banyak problem dalam pengobatan penyakit infeksi. Beberapa penelitian di sarana kesehatan termasuk rumah sakit telah menunjukkan adanya resistensi bakteri yang sangat tinggi.

SARAN
Pada dasarnya ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalkan risiko resistensi, antara lain melakukan optimalisasi terapi, seleksi antibiotika secara lebih seksama, penetapan dosis, cara, dan lama terapi yang lebih rasional. Penggunaan pedoman terapi infeksi juga harus didorong, khususnya dengan memanfaatkan bukti-bukti ilmiah terbaru (current best evidence) yang lebih dapat dipercaya validitasnya. Bukti tersebut dapat diperoleh dari pemanfaatan laboratorium mikrobiologi klinik untuk melakukan tes sensitifitas dalam rangka meminimalkan risiko terjadinya resistensi bakteri.







Daftar Pustaka
Arias, A.C., Murray, B.E., 2008, Mechanisms of Antibiotics Resistance in Enterococci, www. Up date.com

Bauman, R. W., 2007, Microbiology With Diseases by Taxonomy, 2nd edition, Pearson Education Inc, San Fransisco, 301-302

Cassell, G.H., Mekalanos, J., 2001, Development of Antimicrobial Agents in the Era of New and Reemerging Infectious Diseases and Increasing Antibiotic Resistance, JAMA, 2001; 285(5), 601-605

Chambers, H.F., 2006, General Principles of Antimicrobial Therapy, In: Goodman and Gilman’s The Pharmacological Basis of Therapeutics, 11th Edition, McGraw-Hill Companies, New York, 316-317

Diana, G., 2001, Efesiensi Penggunaan Antibiotika, Dalam : Naskah Presentasi Pola Kuman Rumah Sakit Husada Juli-Desember 2001, Jakarta, 2

Duy, T., 1999, Clinical Pharmacology, www.geocities.com/d.thai/pharm_pdf

Dwiprahasto, I., 2005, Kebijakan Untuk Meminimalkan Resiko Terjadinya Resistensi Bakteri Di Unit Perawatan Intensif Rumah Sakit, JMPK, Vol. VIII, No.04, Desember 2005, 177-180

Harley, Prescott, 2002, Laboratory Exercises in Microbiology, 5th Edition, McGraw−Hill Companies, New York, 257-260

Jawetz, Melnick, Adelberg, 2007, Antimicrobial Chemotherapy, In : Jawetz, Melnick, and Adelberg's Medical Microbiology, 24th Edition, McGraw-Hill Companies, New York, 163-166

Leong, Y.K., Aziz, H.A., Yasin, S.M., 1999, Ujian Sensitiviti Antibiotik In Vitro, Dalam: Makmal Mikrobiologi, Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi, 91-94

Morello, Mizer, Granatto, 2003, Laboratory Manual and Workbook in Microbiology, McGraw−Hill Companies, New York, 95-97

Sjahrurachman, A., 2000, Cara Genetis Untuk Menentukan Kepekaan Bakteri Terhadap Antibiotika, Medika, No. 1, Januari Tahun 2000, 31

Unbraw, 2003, Obat Antimikroba, Dalam: Bakteriologi Medik, Bayumedia Publishing, Malang, 105-123

Vyas, J. M., Ferraro, M. J., 2008, Overview of antibacterial susceptibility testing, www. Up date.com

Wahyono, H., 2005, Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kejadian Methicillin Resistant Staphylococcus Aureus (MRSA) pada Penderita dengan Bakteremia di Ruang Perawatan Intensif RS. Hasan Sadikin dan RS. Kariadi, Jurnal MMI, Vol. 40, No. 1, Tahun 2005, 3

Warsa, U. C., Josodiwondo, S., Rahim, A., Santoso, U. S., 1990, Penggunaan Antibiotika Secara Rasional dan Masalah Resistensi Kuman, Yayasan Melati Nusantara, Yogyakarta, 33-41

Weigel, L.M., Clewell, D.B., et al, 2003 Genetic analysis of a high-level vancomycin-resistant isolate of Staphylococcus aureus, Science, No. 302, 1569-1571.